📢SEJARAH SINGKAT
E-LEARNING
Konsep Pembelajaran Berbasis Komputer dan Jaringan seringkali diartikan hanya sebagai e-learning atau Distance Learning. Perkembangan konsep E-learning ini ditandai dengan munculnya situs-situs yang melayani proses belajar mengajar dengan berbasiskan komputer dan jaringan sejak era 15 tahun yang lalu di seluruh pelosok Internet dari yang gratis maupun yang komersial(Adawi, 2014).
Sejarah E-learning di Indonesia dapat dirunut secara waktu sebagai berikut :
1924, Tahun ini dikenal dengan kemunculan The First “Testing Machine”. Profesor Sidney Pressey dari Ohio State University memperkenalkan alat bernama “ Automatic Teacher”. Percobaan ini gagal.
1954, Testing Machine dibuat kembali oleh Profesor BF Skinner dari Harvard University dan berhasil diterapkan di sekolah.
1960, Kemunculan The Computer Based Training (CBT) dengan Programmed Logic for Automated Teaching Operation atau lebih dikenal dengan sebutan PLATO.’
1966, Profesor Psikologi Patrick Suppes dan Richard C Atkinson dari Standford University menggunakan Computer Aided Instruction untuk mengajar matematika dan membaca untuk anak-anak Sekolah Dasar.
1969, Internet mulai dibuat oleh US Departement of Defense.
1970, Komputer semakin diperbaharui menjadi komputer modern, CBT pun juga ikut bertransformasi.
1980, Macintosh muncul dan dimulainya perkembangan komunitas online untuk berbagi informasi, permulaan munculnya e-learning modern.
1990, Kelahiran pertama “Digital Native”, munculnya e-mail menjadi Zaman Baru bagi e-learning dan e-learning mulai tertata dengan baik.
2000, Pihak bisnis mulai mengadopsi e-learning menjadi pusat pelatihan bagi pekerjanya. Tools untuk e-learning sudah mulai banyak ragam yang bermunculan.
2010, Zaman e-learning yang sebenarnya dimana e-learning sejalan dengan momentum kemunculan social media, dimana manusia sudah bisa berbagi informasi mengenai hal apa saja melalui electronik secara online.
📢KEBUTUHAN E-LEARNING
Dalam buku yang berjudul “Elearning Teori dan Aplikasi’ yang ditulis oleh Dian Wahyuningsih, M.Pd dan Rakhmat Makmur” menjelaskan bahwa,
implementasi elearning berdasarkan kebutuhannya terbagi menjadi tiga yaitu:
Pertama, Elearning memiliki fungsi sebagai supplement pada dimensi bentuk kegiatan belajar apabila digunakan sebagai tambahan bagi pembelajaran tatap muka. Dimana metode tatap muka masih mejadi bentuk utama dari kegiatan pembelajaran secara keseluruhan dan elearning digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar tersebut. Penggunaan elearning ini terintegrasi didalam pembelajaran tatap muka yang biasanya disebut pembelajaran difasilitasi web.
Kedua, elearning berfungsi sebagai complement pada dimensi bentuk kegiatan belajar apabila digunakan untuk melengkapi pembelajaran tatap muka. Proporsi penggunaan elearning dengan pembelajaran tatap muka dapat seimbang yang biasanya disebut sebagai blended/hybrid learning. karena pada dasarnya baik elearning maupun pembelajaran tatap muka memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri, sehingga dapat saling melengkapi.
Ketiga, elearning berfungsi sebagai replacement pada dimensi bentuk kegiatan belajar apabila digunakan sebagai pengganti pembelajaran tatap muka. Tujuannya untuk membantu peserta didik mengelola kegiatan pembelajaran sehingga dapat menyesuaikan dengan waktu dan aktivitas lainnya yang memiliki prioritas dan sama pentingnya.
Seperti apakah bentuk-bentuk kebutuhan elearning?
Real Video Shooting, yaitu tampilan dalam elearning Anda merupakan penjelasan langsung dari SME (Subject Matter Expert), output elearning dalam bentuk video.
Animasi Video, yaitu video animasi yang mewakili SME untuk menyampaikan materi dengan berbagai konsep pembelajaran yang relevan dengan materi yang ingin disampaikan.
Campuran, yaitu dengan menggabungkan video real dengan animasi.
REFERENSI :
http://elearningbdlhksmd.blogspot.com/2017/01/sejarah-singkat-e-learning-dan-e.html
https://diconic.co.id/analisa-kebutuhan-elearning-anda/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar